Cari di Sini

Minggu, 22 Mei 2011

Kisah Magis Keris dan Cara Membuatnya

Dalam bursa keris, ada beberapa keris yang ditawarkan hingga mencapai Rp 40 juta. Tetapi ada juga yang berharga satu jutaan. Dihadirkannya ratusan keris di rumah budaya milik Kompas Gramedia itu, mau tak mau mengajak kita semua untuk sebentar berwisata ke masa lalu.
Keris, dengan segala cerita, legenda magisnya masih tetap eksis hingga kini. Meski demikian, keris dalam perkembangannya dikoleksi bukan lantaran kesaktian atau harapan dari kolektornya untuk mendapatkan “sesuatu”, tetapi keindahan dari fisik keris menjadi semakin dominan.

Sesungguhnya, dalam proses pembuatannya keris tidak beda dengan benda-benda seni kriya lain, seperti ukir (batu, kayu, tulang, besi). Yang sangat membedakan justru pada kisah-kisah magis yang dibangun bersama kehadiran keris atau tombak dan pedang.

Kisah-kisah magis itulah yang menjadikan keris sangat sulit untuk diproduksi massal. Tetapi dampak lain juga memunculkan sikap keengganan. Tidak semua orang mau mengoleksi keris sebagai benda seni, karena takut. Namun dari kisah-kisah magis itu pulalah keris menjadi seni tingkat tinggi yang hanya dinikmati oleh mereka yang benar-benar mengerti, memahami dan menghargai serta mencintai benda yang dihasilkan oleh seni tempa itu.

Zaman orde baru, hampir setiap menteri mengoleksi keris. Dan tak urung melahirkan percandaan, “Biar dianggap memahami budaya, karena boss-nya kebetulan orang Jawa dengan berbagai isu tentang kejawaannya.”

Kisah-kisah heroik atau magis tentang keris selalu muncul dari zaman ke zaman. Kisah keris Empu Gandring, sangat erat dan dekat dengan pola pemilihan kepemimpinan di masa Singasari. Siapa yang menguasai keris itu, akan menjadi raja Singasari. Namun, siapa yang menguasai keris itu, akan terbunuh oleh keris itu juga.
Keris pesanan Ken Arok, yang kemudian menjadi raja Singasari yang pertama, di besalen (studio keris) Empu Gandring sudah menjadi sebuah mitos. Bahkan di kalangan pakar keris pun, ujud keris itu seperti apa masih terjadi silang pendapat.

Di lingkungan keluarga Empu Supa yang hingga kini masih menekuni profesi sebagai pembuat keris, Keris Empu Gandring sebenarnya belum selesai dikerjakan. Namun karena laku prihatin Empu Gandring atau karena kutukan Empu Gandring pulalah keris itu menjadi sangat sakti dan populer. Tetapi keris itu sesungguhnya bernama apa, tidak ada yang tahu. Kebanyakan hanya menyebut keris Empu Gandring.

Kisah Keris Tuding Sumelanggandring juga tidak kalah serunya. Di era Brawijaya pertama, kerajaan Majapahit kehilangan keris bernama Tuding Sumelanggandring. Lalu diutuslah Jaka Supa yang saat itu hendak mendaftar sebagai abdi dalem di kerajaan itu. Dikisahkan dalam perjalanan pencarian keris itu, Jaka Supa akhirnya mendapatkan wisik dari Tuhan Yang Maha Esa, bahwa keris itu berada di tangan Adipati Siung Laut di Blambangan. Bergegaslah Jaka Supa ke Blambangan.

Berkat keahlian Jaka Supa dalam memproduksi keris-keris model baru, Adipati Siung Laut terpikat. Bahkan Adipati itu memerintahkan Jaka Supa untuk membuat duplikat (mutrani) keris Tuding Sumelanggandring. Misi Jaka Supa akhirnya berhasil. 

Jaka Supa meminta agar tidak ada orang yang mendatangi besalennya saat dia mengerjakan pesanan Adipati Siung Laut, meski saat itu Jaka Supa sudah menjadi menantu Adipati itu. Jaka Supa sangat setia kepada rajanya di Majapahir, ketimbang terhadap mertuanya di Blambangan. Ternyata Jaka Supa tidak hanya membuat satu duplikat, melainkan dua. Sedangkan keris yang asli disimpannya di paha yang tertutup kain.

Lalu dua keris palsu itu dipersembahkan kepada mertuanya. Adipati Siung Laut gembira, karena kini dia punya dua keris kebanggaan Majapahit yang sangat sakti. Selesai mengerjakan keris itu, Jaka Supa secara diam-diam meninggalkan Blambangan.

Kisah selanjutnya, Jaka Supa diangkat menjadi salah satu pangeran dengan gelar Pangeran Sendangsedayu. Cita-cita Siung Laut untuk menggeser kekuasaan Majapahit ke Blambangan akhirnya gagal total.

Keris buatan Pangeran Sendangsedayu memiliki ciri pada pamor yang sangat halus. Dan keturunan Pangeran Sendangsedayu ini pulalah yang hingga kini masih melanjutkan pembuatan keris, disamping empu-empu keris dari keturunan empu lain atau pembuat keris yang bukan keturunan empu, yang masih mempertahankan tradisi itu.

Dalam dunia pewayangan, cerita-cerita kehebatan tentang keris menjadi sangat dominan. Hampir setiap tokoh wayang memiliki senjata berupa keris. Wayang purwa dengan kisah Mahabarata dan Ramayana yang berkembang sejak zaman Majaopahit akhir dan masuknya peradaban Islam, menempatkan keris sebagai benda yang begitu penting.

Empu-empu keris dalam kisah pewayangan hanya selalu disebutkan namanya, tetapi tidak pernah diperlihatkan sosoknya. Empu Ramadi, merupakan salah satu yang paling terkenal. Bahkan Ki Dalang sering menyebutkan bahwa Empu Ramadi merupakan pembuat keris di Kahyangan, alamnya para dewa.

Keris-keris yang sangat populer di dunia pewayangan antara lain, Kaladete, Kalamisani, Kalanadah, Pulanggeni, Jalak, Carubuk. Sedangkan yang berupa panah, Guwawijaya, Pasupati, Cakra, Nagabanda, Cundamanik. Yang berupa gada, antara lain gada Rujakpolo, Lukitasari, Inten, Wesi Kuning.

Di zaman Mataram Islam, Sultan Agung Hanyakrakusuma menciptakan tokoh raksasa bernama Buta Cakil. Tokoh ini merupakan petarung yang sangat ahli memainkan keris. Keris Kolomunyeng namanya. Namun, karena Buto Cakil memang diciptakan sebagai tokoh jahat, dalam setiap pehampilannya, Buto Cakil selalu mati oleh kerisnya sendiri.

Di zaman Islam keris dan senjata tombak yang sangat terkenal adalah Keris Setankober, milik Adipati Jipang Aria Penangsang. Tombak Kyai Plered milik Panembahan Senapati.

Bahkan dalam perjalanan sejarahnya, Pangeran Diponegoro selalu mempersenjatai diri dengan sebilah keris. Bisa dilihat dalam lukisan-lukisan Diponegoro, keris selalu menjadi bagian yang tidak pernah ketinggalan. Demikian pula dengan bapak TNI, Jenderal Sudirman yang selalu mengenakan keris dalam setiap penampilannya.

Benarkah keris merupakan benda sakti? Jawabnya ada pada anda semua. Demikian juga jika ditanyakan, benarkah keris itu indah, jawabnya juga ada dalam diri anda semua.

Tetapi untuk melestarikan keris, para pekerja seni banyak yang sudah mencurahkan perhatian. Entah sebagai kolektor, pedagang, pengagum atau bahkan pembuat. Mereka memiliki andil yang sangat besar dalam mengembangkan budaya warisan leluhur kita itu.

Bagaimana membuat keris, adalah pertanyaan yang paling menarik. Karena jika ingin menjadi kolektor, sediakan saja uang yang cukup, maka syarat mendasar yang dibutuhkan sudah anda miliki.

MEMBUAT keris diawali dengan pemilihan bahan baku yang baik. Dalam kasanah perkerisan ada berbagai jenis besi. Yang sering disebut-sebut ada besi Mangangkang, Pulosrani, Balitung dan sebagainya.
Tentu hanya mereka yang sudah mahir yang memiliki kemampuan memilih besi mana yang baik dan mana yang tidak baik sebagai bahan keris. Cara memilih besi bisa menggunakan berbagai cara. Masing-masing pembuat keris memiliki keterampilan berbeda-beda.

Ada yang hanya dengan cara mengamati fisik dan warna besi, ada yang harus memukul dan dari suara dentangan besi itu bisa ditentukan pilihannya. Semua itu, konon tergantung kebiasaan dari pembuat keris, dan konon pula hasilnya akan sama, karena tujuannya sama; memilih bahan yang bagus.

Besi yang sudah ditentukan, kemudian dibentuk menjadi balok lebar sekitar 5 sentimeter, tebal 2-3 sentimeter. Ada dua balok besi berukuran, bentuk dan berat dibuat sama.

Langkah kedua, menyiapkan pamor. Ada beberapa jenis pamor yang biasa dipakai. Lazimnya, sekarang para pembuat keris mempergunakan nikel. Besi nikel bisa didapatkan di pasar besi tua dengan gampang. Namun ada juga yang mempergunakan velk mobil atau sepeda motor bekas.

Untuk keris tertentu, pesanan misalnya, biasanya memakai meteorid sebagai pamor. Namun, karena barang ini sudah sangat langka, meteorid bisa “dikumpulkan” dari pedang atau keris tua yang sudah tidak terawat kemudian dilebur untuk diambil pamornya.

Jika pamor yang dipakai berupa kepingan kecil-kecil, untuk mengumpulkannya bisa diakali dengan membuat amplop dari lempengan besi. Kepingan-kepingan tersebut kemudian dimasukkan dalam amplop tersebut, disatukan dan kemudian dibentuk menjadi balok yang bentuknya sama dengan balok besi yang disiapkan di awal.

Balok berisi nikel, dijepit di antara dua balok (batangan) besi dan kemudian dibakar. Proses pembakaran diperkirakan mencapai 1.000 derajad selsius lebih. Arang kayu jati menjadi pilihan utama, karena panas arang kayu jati lebih stabil dibanding arang jenis kayu yang lain.

JIka pada bara api sudah muncul kembang api yang berasal dari balok-balok besi yang dibakar tadi, proses penempaan segera dimulai. Proses penempaan ini merupakan cara untuk menyatukan tiga balok tersebut.
Dalam proses ini, ketiga balok harus benar-benar rekat, karena saat itulah seorang empu sedang mengawali pembuatan motif pamor. Jika sudah benar-benar menyatu, besi itu kemudian dipotong menjadi dua, sehingga pamor akan menjadi dua lapis. Dilanjutkan seperti pada proses awal, yakni perekatan dan pemanjangan besi yang sudah berpamor itu.

Demikian seterusnya penempaan dilakukan, sampai mendapatkan lapisan besi dengan lapisan-lapisan yang diinginkan. Semakin banyak lapisan, akan semakin halus pamor yang diperoleh. Menghitung lapisannya menggunakan deret ukur. 1, 2, 4, 8, 16, 32, 62 dan seterusnya.

Bahan dasar besi berpamor ini, sudah bisa dipergunakan untuk pamor jenis beras wutah, atau wos wutah.
Misalnya pada kelipatan 62, proses dihentikan pun bisa. Besi berpamor itu kemudian dibagi dua, dan dibentuk menjadi trapesium. Ujung yang lebih kecil diarahkan menjadi bagian ujung keris, sedangkan yang lebar diarahkan menjadi bagian pangkal keris.

Berikutnya, disiapkan potongan baja murni dan dibentuk trapesium sedikit lebih lebar dibanding trapesium dengan bahan besi berpamor. Tiga trapesium ini kemudian direkatkan dengan pembakaran yang sama sebagaimana dilakukan pada proses pembuatan bahan dasar besi berpamor.

BEBERAPA istilah atau nama penyebutan dalam dunia keris Jawa/Madura juga dikenal di hampir seluruh penggemar keris di Indonesia termasuk Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Sebab, keris bukan hanya budaya milik orang Indonesia, tetapi milik bangsa Melayu. Jadi tidak aneh kalau orang Malaysia, Singapura atau Brunei juga mengklaim budaya itu.

YONI atau ANGSAR

Sebutan untuk daya kesaktian keris. Untuk melihat sebilah keris memiliki kesaktian atau tidak, nenek moyang kita menggunakan cara menayuh/tayuh. Laku seperti ini hanya bisa dikerjakan oleh mereka yang benar-benar paham dan memiliki kelebihan.

DAPUR
Merupakan istilah yang dipakai untuk menyebut bentuk atau model keris. Ricikan (ukiran/pahatan) dalam masing-masing keris akan memunculkan nama-nama dapur yang berbeda-beda. Sama-sama keris lurus dan ber-luk (kelok) dengan jumlah yang sama, jika berbeda ricikannya akan berbeda pulsa sebutannya. Ada ratusan nama dapur keris, sebagai contoh keris lurus saja memiliki puluhan dapur.

LUK
Jumlah kelokan pada keris akan menjadi sebutan yang mengikuti keris. Jumlah kelokan keris selalu ganjil, jika ada keris ber-luk genap, sangat mungkin keris itu pernah patah atau mungkin saja ciptaan baru yang sengaja dibuat kidal. Keris tanpa luk tidak ada sebutan, kecuali keris saja.

WARANGKA
Sarung keris, terbuat dari kayu-kayu bernilai tinggi (langka). Tetapi juga bisa dibuat menggunakan kayu-kayu populer seperti jati, asam, sono. Yang lazim dikenal adalah warangka terbuat dari kayu cendana, trembalo, awar-awar, kemuning, tayuman dan beberapa jenis kayu langka lainnya. Ada empat nama warangka yang sangat populer, yakni warangka gayaman, warangka ladrang, sandang walikat, dan wulan tumanggal.

PELED
Motif belang-belang pada warangka yang dihasilkan oleh galih kayu. Masing-masing kayu memiliki peled berbeda-beda.

MENDHAK
Di Jawa, Madura, dan Bali istilah mendhak sangat populer. Namun untuk daerah lain di luar dari tiga daerah itu biasa disebut ring atau cincin. Terbuat dari beberapa jenis logam dab bahkan di beberapa titiknya bisa dilengkapi dengan permata. Secara teknis mendhak berfungsi memisahkan bilah keris agar tidak bersentuhan langsung dengan warangka.

PAMOR
Motif hias pada bilah keris. Ada ribuan motif pamor. Pamor dibuat dari batu meteor, nikel atau pamor yang dihasilkan oleh lipatan-lipatan besi tanpa menggunakan benda jenis lain.

PENDHOK
Terbuat dari emas, perak, tembaga atau kuningan dengan ukiran-ukiran yang sangat rumit. Selain untuk menambah kemewahan penampilan, pendhok juga berguna untuk melindungi bagian warangka yang menjulang dari atas ke bawah (bila dikenakan) yang biasanya terbuat dari kayu-kayu lunak.

NAMA-NAMA RICIKAN KERIS
Keris terdiri dari dua bagian, yang melintang disebut ganja, sedangkan yang membujur wilah keris itu sendiri. Pada bagian ganja ada beberapa nama yang diberikan, antara lain, sirah cecak (bagian depan), kepet urang (bagian belakang). Dalam kepet urang ada ukiran dua huruf dha dalam aksara Jawa. Karena ada dua (loro, ron) huruf dha bagian ini kemudian disebut randha nunut.

Dalam sebilah keris ada nama-nama bagian yang jumlahnya sangat banyak. Sekar kacang (telale gajah) berbentuk seperti belalai gajah, di dalamnya ada ukiran kecil disebut lambe gajah. Sekar kacang juga bisa diganti dengan ukiran-ukiran kepala naga, kepala anjing, kepala gajah, kepala burung dan lain sebagainya. Berikut ini nama-nama dari bagian keris; bawang sebungkul, tikel alis, kruwingan, sogokan, blumbangan.

TANGGUH
Apa yang disebut tangguh? Sesungguhnya istilah tangguh merupakan kata ganti dari perkiraan. Yakni zaman apa atau zaman siapa keris itu dibuat. Tangguh Mataram, tangguh Majapahit, Medang Kamolan, Tuban, Singasari, Kediri, Blambangan, Senopaten, Pakunbuwanan, Hamengkubuwanan, Sedayu, Ngento-ento, Madura, Madiun dan lain sebagainya. Untuk mengetahui tangguh sebuah keris, memerlukan ketelitian dan daya ingat yang tinggi. Tidak semua orang tahu tentang hal itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar