Minggu, 22 Mei 2011

Keris Brojoguno Bisa Menembus Baja dan Besi


Para kolektor keris pernah menghindari koleksi keris-keris dari jaman Pajang dan Kartasura. Mereka berpendapat tosan aji dari kedua jaman itu ,dianggap kurang baik, karena berasal dari jaman Kraton yang umurnya relatif pendek. Keraton Pajang umurnya hanya 32 tahun (1628-1660) dan Kartasura hanya 75 tahun (1670-1745).

Keduanya runtuh karena peperangan. Patut dipertanyakan apakah alasan itu lebih didasarkan atas hasil karyanya ataukah oleh sebab filosophy lain. Dalam sejarah memang disebutkan ,selama kedua kerajaan itu berdiri diwarnai dengan banyak peperangan dan kerusuhan. sehingga menyimpulkan hasil karya para empunyapun kurang bagus karena dibuat dalam suasana tidak aman.

Demikian antara lain terungkap dalam sarasehan terbatas Pametri Wiji . Pakar keris KRT Sumosudiro mengatakan, Kerajaan Pajang berdiri sebelum Keraton Mataram. Sedang Kerajaan Kartasura merupakan perpanjangan Kerajaan Mataram. Disebutkan, sepeninggal Sri Susuhunan Amangkurat Agung (Seda Tegalarum) tampuk pemerintahan dipegang oleh puteranya, Pangeran Adipati Anom yang kemudian menjadi Sri Susuhunan Amangkurat II. Pusat Kerajaan Mataram, Plered, ketika berhasil direbut dari tangan pemberontak sudah dalam keadaan rusak. Itulah sebabnya keraton dipindah kehutan Wonokerto yang kemudian dijadikan pusat kerajaan dan diberi nama Kartasura Hadiningrat.

Di jaman Pajang dengan Raja Sri Sultan Hadiwijoyo dikenal beberapa orang empu, diantaranya Empu Umyang dan Empu Cublak.

Empu Umyang adalah anak Empu Supa (Sepuh) dari jaman Majapahit. Ki Umyang juga disebut Ki Tundhung Kudus. Disebut demikian karena sewaktu mengabdi kepada Raja Pajang ia diusir dari keraton gara-gara difitnah oleh rekannya Empu Cublak. Di Kudus pembuat keris ini tidak lama, kemudian ia mengabdi ke kerajaan Mataram, bahkan dia diangkat menjadi pemimpin para empu, dan diberi gelar Ki Supa Anom atau lebih kondang disebut Ki Nom.

Karya Empu Umyang banyak dipercaya masyarakat jika digunakan untuk mengkreditkan uang akan menguntungkan. Yang berhutang selalu akan risih karena diganggu oleh dhemit dan thuyul yang bercokol di dalam keris Umyang itu. Keris Umyang ditandai dengan bagian sor-sorannya yang mbekel (buncit) seperti perut Bethara Narada atau ngedhe karena luknya berjalan kekiri, tidak kekanan seperti lazimnya. Namun menurut pakar tayuh keris R. Oesodo, keris Umyang tidak selalu ngedhe. Ada juga keris Umyang yang berluk biasa bahkan ada juga yang berdapur lurus.

Mbah Prawirosudarmo (alm.) paranormal dari sentolo pernah mengingatkan, tidak semua orang bisa memakai keris Umyang. Beliau mengaku sudah beberapa kali kedatangan keturunan orang kaya di Kota gede. Mereka mengeluh kehidupannya terlunta-lunta dan tidak merasa tentram. Menururt pengamatan batin Mbah Prawirosudarmo ternyata mereka menyimpan keris Umyang yang sewaktu orang tuanya selalu diberi sesaji gecoh daging mentah pada waktu-waktu tertentu. Atas sarannya keris warisan orang tuanya itu dilabuh di Laut Kidul meskipun pusaka itu sedah diberi busana yang mewah. Nyatanya setelah hal itu dikerjakan, mereka dapat menjalani kehidupannya dengan baik dan tenteram.

Pada umumnya keris tangguh Pajang memiliki besi mentah, terkesan kurang tempaan Pamornya mubyar (menyala) putih seperti perak. Baja sedang jika berluk, kellokannya terlihat rapat (kekar). Ganja umumnya besar. Sirah cecak juga besar. Tantingannya agak berat, lebih berat dari keris-keris Mataram.
Selain Umyang di jaman Pajang juga dikenal Empu Cublak, Empu Wonogati, Empu Surawangan, Empu Joko Puthut dan Empu Pengasih. Pembuatkeris yang disebut terakhir ini ditandai dengan karyanya yang tidak berpamor.

Berbicara tentang keris tangguh Kartasura, Sumosudiro mengutip uraian M Ng. Wirasukadga dari Keraton Surakarta sbb. : ganja sebit lontar, sirah cecak lancip, badan bilah tebal, dan kau (janggal), besi keropos dan keputihan, pamor mengambang dan mubyar (menyala putih seperti perak) atau tidak berpamor. Gaya keris Kartasura mirip keris Mataram. Pasikutannya nyatriya, terkesan seperti seorang satriya, tetapi kasar. Yang luk umumnya rapat (kekar). Empu yang terkemuka di jaman itu adalah Empu Brojo (Brojoguno I) yang mengabdi di kraton.

Hasil karyanya terkesan sangat keras, bisa menembus uang logam, bahkan konon bisa menembus baju besi (kere waja). Empu lainnya adalah Empu Sentranaya III, Empu Sendhang Warih, Empu Taruwangsa, Empu Japan dan masih banyak lagi. Di jaman Keraton Kartasura telah dibat duplikat keris pusaka Kangjeng Kyai Ageng Maesa Nualr. Tidak jelas apakah KKA Maesa Nular yang dimiliki Keraton Yogyakarta itu asli atau duplikatnya yang dibuat di jaman Kartasura. Menururt catatan keris pusaka itu berdapur Maesa Lajer.

Pada masa itu para empu keraton juga membuat duplikat tombak pusaka Kangjeng Kyai Ageng Pleret. Sewaktu Geger Pacinan tombak inventaris keraton ini diamankan oleh abdidalem Suranata. Namun Pangeran Mangkubumi (kemudian menjadi Sri Sultan HB I) yang melihatnya segera merebutnya. Selanjutnya menjadi milik Keraton Yogyakarta. Apakah yang dilarikan itu tombak yang tulen ataukah tombak yang putran/tiruan..? sulit untuk dijawab, karena hampir tidak mungkin menelitinya.

KERIS BROJOGUNO BISA MENEMBUS BAJA BESI
Para kolektor keris pernah menghindari koleksi keris-keris dari jaman Pajang dan Kartasura. Mereka berpendapat tosan aji dari kedua jaman itu ,dianggap kurang baik, karena berasal dari jaman Kraton yang umurnya relatif pendek. Keraton Pajang umurnya hanya 32 tahun (1628-1660) dan Kartasura hanya 75 tahun (1670-1745). Keduanya runtuh karena peperangan. Patut dipertanyakan apakah alasan itu lebih didasarkan atas hasil karyanya ataukah oleh sebab filosophy lain. Dalam sejarah memang disebutkan ,selama kedua kerajaan itu berdiri diwarnai dengan banyak peperangan dan kerusuhan. sehingga menyimpulkan hasil karya para empunyapun kurang bagus karena dibuat dalam suasana tidak aman.

Demikian antara lain terungkap dalam sarasehan terbatas Pametri Wiji . Pakar keris KRT Sumosudiro mengatakan, Kerajaan Pajang berdiri sebelum Keraton Mataram. Sedang Kerajaan Kartasura merupakan perpanjangan Kerajaan Mataram. Disebutkan, sepeninggal Sri Susuhunan Amangkurat Agung (Seda Tegalarum) tampuk pemerintahan dipegang oleh puteranya, Pangeran Adipati Anom yang kemudian menjadi Sri Susuhunan Amangkurat II. Pusat Kerajaan Mataram, Plered, ketika berhasil direbut dari tangan pemberontak sudah dalam keadaan rusak. Itulah sebabnya keraton dipindah kehutan Wonokerto yang kemudian dijadikan pusat kerajaan dan diberi nama Kartasura Hadiningrat.

Di jaman Pajang dengan Raja Sri Sultan Hadiwijoyo dikenal beberapa orang empu, diantaranya Empu Umyang dan Empu Cublak.

Empu Umyang adalah anak Empu Supa (Sepuh) dari jaman Majapahit. Ki Umyang juga disebut Ki Tundhung Kudus. Disebut demikian karena sewaktu mengabdi kepada Raja Pajang ia diusir dari keraton gara-gara difitnah oleh rekannya Empu Cublak. Di Kudus pembuat keris ini tidak lama, kemudian ia mengabdi ke kerajaan Mataram, bahkan dia diangkat menjadi pemimpin para empu, dan diberi gelar Ki Supa Anom atau lebih kondang disebut Ki Nom.

Karya Empu Umyang banyak dipercaya masyarakat jika digunakan untuk mengkreditkan uang akan menguntungkan. Yang berhutang selalu akan risih karena diganggu oleh dhemit dan thuyul yang bercokol di dalam keris Umyang itu. Keris Umyang ditandai dengan bagian sor-sorannya yang mbekel (buncit) seperti perut Bethara Narada atau ngedhe karena luknya berjalan kekiri, tidak kekanan seperti lazimnya. Namun menurut pakar tayuh keris R. Oesodo, keris Umyang tidak selalu ngedhe. Ada juga keris Umyang yang berluk biasa bahkan ada juga yang berdapur lurus.

Mbah Prawirosudarmo (alm.) paranormal dari sentolo pernah mengingatkan, tidak semua orang bisa memakai keris Umyang. Beliau mengaku sudah beberapa kali kedatangan keturunan orang kaya di Kota gede. Mereka mengeluh kehidupannya terlunta-lunta dan tidak merasa tentram. Menururt pengamatan batin Mbah Prawirosudarmo ternyata mereka menyimpan keris Umyang yang sewaktu orang tuanya selalu diberi sesaji gecoh daging mentah pada waktu-waktu tertentu. Atas sarannya keris warisan orang tuanya itu dilabuh di Laut Kidul meskipun pusaka itu sedah diberi busana yang mewah. Nyatanya setelah hal itu dikerjakan, mereka dapat menjalani kehidupannya dengan baik dan tenteram.

Pada umumnya keris tangguh Pajang memiliki besi mentah, terkesan kurang tempaan Pamornya mubyar (menyala) putih seperti perak. Baja sedang jika berluk, kellokannya terlihat rapat (kekar). Ganja umumnya besar. Sirah cecak juga besar. Tantingannya agak berat, lebih berat dari keris-keris Mataram.
Selain Umyang di jaman Pajang juga dikenal Empu Cublak, Empu Wonogati, Empu Surawangan, Empu Joko Puthut dan Empu Pengasih. Pembuatkeris yang disebut terakhir ini ditandai dengan karyanya yang tidak berpamor.

Berbicara tentang keris tangguh Kartasura, Sumosudiro mengutip uraian M Ng. Wirasukadga dari Keraton Surakarta sbb. : ganja sebit lontar, sirah cecak lancip, badan bilah tebal, dan kau (janggal), besi keropos dan keputihan, pamor mengambang dan mubyar (menyala putih seperti perak) atau tidak berpamor. Gaya keris Kartasura mirip keris Mataram. Pasikutannya nyatriya, terkesan seperti seorang satriya, tetapi kasar. Yang luk umumnya rapat (kekar).

Empu yang terkemuka di jaman itu adalah Empu Brojo (Brojoguno I) yang mengabdi di kraton. Hasil karyanya terkesan sangat keras, bisa menembus uang logam, bahkan konon bisa menembus baju besi (kere waja). Empu lainnya adalah Empu Sentranaya III, Empu Sendhang Warih, Empu Taruwangsa, Empu Japan dan masih banyak lagi. Di jaman Keraton Kartasura telah dibat duplikat keris pusaka Kangjeng Kyai Ageng Maesa Nualr. Tidak jelas apakah KKA Maesa Nular yang dimiliki Keraton Yogyakarta itu asli atau duplikatnya yang dibuat di jaman Kartasura. Menururt catatan keris pusaka itu berdapur Maesa Lajer.

Pada masa itu para empu keraton juga membuat duplikat tombak pusaka Kangjeng Kyai Ageng Pleret. Sewaktu Geger Pacinan tombak inventaris keraton ini diamankan oleh abdidalem Suranata. Namun Pangeran Mangkubumi (kemudian menjadi Sri Sultan HB I) yang melihatnya segera merebutnya. Selanjutnya menjadi milik Keraton Yogyakarta. Apakah yang dilarikan itu tombak yang tulen ataukah tombak yang putran/tiruan..? sulit untuk dijawab, karena hampir tidak mungkin menelitinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar